AKADEMI KESEJAHTERAAN SOSIAL IBU KARTINI GELAR KKL EDUKATIF KE SURABAYA, MALANG, DAN BALI
Sebagai langkah strategis dalam mencetak sdm unggul yang siap mengakselerasi pertumbuhan industri kreatif nasional, Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) Ibu Kartini Semarang sukses menggelar Kuliah Kerja Lapangan (KKL) terintegrasi. Berlangsung selama enam hari penuh dari tanggal 17 Mei 2026 hingga 22 Mei 2026, perjalanan edukatif ini menjelajahi tiga episentrum ekonomi dan budaya Indonesia: Surabaya, Malang, dan Bali.
Agenda akademik ini diikuti oleh 31 mahasiswa lintas semester dengan kawalan ketat dari 5 dosen pendamping. Guna memastikan output yang optimal dan relevan, observasi lapangan dibagi secara spesifik berdasarkan fokus Program Studi (Prodi) masing-masing:
- Desain Mode (14 Mahasiswa): Menyelami rantai pasok fesyen secara komprehensif, mulai dari membedah manajemen produksi di fashion house ternama, mempelajari keandalan industri di Istana Bordir, melihat otomatisasi sistem di Yakult, hingga melakukan studi banding manufaktur pakaian massal di Krisna Konveksi dan Dewata Konveksi Bali.
- Seni Kuliner (9 Mahasiswa): Menjelajahi manajemen dapur skala besar dan standardisasi mutu pangan global. Para mahasiswa berkesempatan mengeksplorasi konsep eduwisata industri di Secret Garden, membedah rantai produksi cokelat premium di Jungle Gold Bali, serta mempelajari sistem higienitas tinggi di Yakult.
- Tata Rias (8 Mahasiswa): Mendalami anatomi bisnis kecantikan modern dan kosmetika masa kini. Fokus studi dilakukan melalui kunjungan akademik ke Universitas Negeri Surabaya (UNESA), pengenalan riset produk di Secret Garden dan Yakult, hingga melihat langsung hulu-hilir industri maklon kosmetik kosmetik estetik di PT Urban Asia.
Menghubungkan Teori Kampus dengan Realita Industri
Perjalanan edukatif ini dirancang secara runut dan tematik. Dimulai dari Surabaya sebagai gerbang bisnis utama, rombongan kemudian bergerak menuju Malang untuk membedah potensi industri kreatif dan kuliner lokal, sebelum akhirnya memuncak di Bali sebagai kiblat pariwisata serta lifestyle internasional.
Di setiap destinasi, para mahasiswa tidak sekadar menjadi pengamat pasif. Mereka terlibat aktif dalam diskusi interaktif, membedah studi kasus bersama para praktisi, akademisi, dan pemilik usaha. Pola komunikasi dua arah ini sengaja dibentuk agar mahasiswa mampu mengonversikan teori di bangku kuliah menjadi kesiapan kerja yang nyata saat lulus nanti.